Rabu, 27 April 2016
Rabu, 13 April 2016
Sekolah sebagai tempat belajar bagaimana cara berlaku baik
Setelah semua pelajaran usai, di sekolah selalu dilakukan
sholat berjamaah. Untuk kelas 4B kebetulan kelasnya lebih luas dari kelas yang
lain, sehingga sholat berjamaah biasa dilakukan di belakang kelas.
Waktu itu saya menggantikan wali kelas untuk bimbingan
sholat berjamaah.
Begitu Iqomah dikumandangkan, para siswa gaduh saling
menunjuk siapa yang menjadi imam. Kemudian, seorang siswa memutuskan untuk
bertanya kepada saya, siapa yang harus menjadi imam.
Saya lakukan secara acak dan menunjuk Rama sebagai imam.
Rama anak yang baik dan suka membantu, saya membatin kalau
mungkin dia belum pernah atau jarang menjadi imam. Jadi dengan bertujuan untuk
melatih Rama menjadi imam yang baik, saya menunjuknya. Bukankah seharusnya ini
tujuan latihan sholat berjamaah di sekolah?
Begitu mengetahui bahwa dirinya ditunjuk sebagai imam, Rama
merasa rendah diri dan berkata tidak bisa, juga suaranya tidak terlalu keras.
Tetapi teman-temannya meyakinkan dia dengan berkata, “Ayo ma, kamu bisa!
Berusaha gapapa!”
Saya tersenyum bangga dalam hati. Anak-anak ini telah
berhasil mencari cara bersimpati pada temannya.
Dengan berat hati, Rama memulai sholat berjamaah sebagai
imam. Saya menunggui di belakang shof. Semuanya lancar sampai pada rakaat
terakhir, seharusnya Rama melakukan duduk diantara dua sujud, tetapi Ia malah
takbir dan berdiri. Haikal menyadari adanya kesalahan dan berkata,
“Subhanallah”, tanda mengingatkan kesalahan imam. Rama pun duduk kembali,
tetapi langsung melakukan salam.
Teman-teman langsung gaduh dan menyalahkan Rama. Beberapa
ada yang bertanya sambil tidak sabar, “Siapa sih yang nyuruh Rama jadi imam?”.
Teman laki-laki langsung berkata, “He, bu Sofi yang nyuruh.”
Saya menengahi perdebatan,
“Jika imam sudah diingatkan tetapi masih salah, maka sholat
harus diulang. Jadi silahkan mengulang sholat berjamaahnya tetapi dengan imam
yang sama, Rama.”
Para siswa gaduh tanda tidak setuju, tetapi sholat tetap
dilaksanakan. Rama sebenarnya sudah terlihat ‘sedih’, tetapi Ia mau
melakukannya lagi. Saya pikir, dengan kesempatan kedua, Ia akan lebih berusaha
terutama untuk memperbaiki kesalahan di kesempatan pertama.
Pada waktu itu, saya duduk di meja guru, di depan kelas.
Saya juga tidak begitu memperhatikan sholat para siswa. Begitu sholat usai,
beberapa siswa maju ke depan dan berkata,
“Buuu Rama nangis buu, anak-anak banyak yang sholat lagi.”
Karena sudah melebih jam pulang, saya mempersilahkan para
siswa yang ingin pulang terlebih dahulu dan sengaja tidak segera menghampiri
kerumunan anak lelaki yang mengitari Rama.
Saya sengaja ingin memperhatikan apa yang mereka coba
lakukan pada Rama.
Samar-samar terdengar Haikal berkata,
“Nggak papa ma, aku dulu pas pertama kali ngimami juga salah
kok. Malah rakaatnya jadi 5, hehe.”
Lalu, saya menghampiri mereka dan langsung duduk tanpa
berkata-kata.
Zee berkata,
“Bu gapapa kan Rama salah? Kan yang penting sudah berusaha
kan bu?”
Saya membalas,
“Yap, betul itu Ma! Kan sekarang masih latihan biar nantinya
kamu bisa jadi imam yang bagus, kan kalo laki-laki harus bisa jadi imam. Gapapa
sekarang salah, biar inget salahnya, terus besok-besok gak salah lagi.”
Lalu, Zaki menghampiri saya sambil berkata lirih,
“Bu, saya dulu juga pernah bu, waktu pertama kali jadi imam
iku saya salah bu.”
Saya bilang, “Loh, yaudah Ki, bilang aja kamu pernah gitu,
terus tenangin Rama, bilang gapapa Ma, kan masih belajar, gituuu”
Dia langsung duduk disebelah Rama dan menceritakan
pengalamannya menjadi imam dan menenangkannya.
Anak-anak ini adalah manusia. Mereka bukan orang dewasa yang
harus selalu dihukum jika mereka salah, mereka adalah anak-anak minim
pengalaman dan pengetahuan. Anak-anak boleh melakukan kesalahan. Kesalahan
adalah salah satu pembelajaran yang menjadikan mereka bisa memperbaiki diri.
Jika sekali bersalah lalu dengan sewenang-wenang mereka
dihukum, tanpa melakukan tanya jawab pada si anak, menanyakan alasan-alasan
mengapa Ia melakukannya, lalu mereka bisa belajar apa dari kesalahannya?
Mereka akan mempelajari bahwa, berbuat salah adalah hal yang
memalukan dan menakutkan. Karena dipermalukan di depan temannya dan dihukum
sewenang-wenang. Mereka akan selalu ragu dalam berbuat. Jika mereka ingin
berbuat mereka akan selalu mengalami konflik diri, jika saya lakukan ini nanti
jangan-jangan saya dihukum. Sehingga mereka selalu ketakutan saat akan berbuat
sesuatu.
Kesalahan pertama anak hendaknya dimaklumi kemudian diberi
dorongan untuk memperbaiki diri.
Insyaallah, saya meyakini akan lebih banyak lagi siswa yang dapat belajar cara berlaku baik terhadap teman.
Insyaallah, saya meyakinin akan lebih banyak lagi guru yang dapat membimbing siswa belajar cara berlaku baik.
Mewujudkan Pendidikan yang lebih baik untuk generasi terbaik bangsa tercinta, bangsa Indonesia.
Anak-anak boleh melakukan kesalahan
Anak-anak ini adalah manusia. Mereka bukan orang dewasa yang harus selalu dihukum jika mereka salah, mereka adalah anak-anak minim pengalaman dan pengetahuan. Jika orang dewasa dihukum karena kesalahan yang mereka perbuat, anak-anak boleh melakukan kesalahan. Kesalahan adalah salah satu pembelajaran yang menjadikan mereka bisa memperbaiki diri. Sebenarnya orang dewasa pun dapat menjadikan kesalahan sebagai cara memperbaiki diri, tetapi orang dewasa dianggap sudah memiliki cukup pengetahuan dan pengalaman, sehingga pantas dihukum.
Jika sekali bersalah lalu dengan sewenang-wenang mereka dihukum, tanpa
melakukan tanya jawab pada si anak, menanyakan alasan-alasan mengapa Ia
melakukannya, lalu mereka bisa belajar apa dari kesalahannya?
Mereka akan mempelajari bahwa, berbuat salah adalah hal yang memalukan dan
menakutkan. Karena dipermalukan di depan temannya dan dihukum sewenang-wenang.
Mereka akan selalu ragu dalam berbuat. Jika mereka ingin berbuat mereka akan
selalu mengalami konflik diri, jika saya lakukan ini nanti jangan-jangan saya
dihukum. Sehingga mereka selalu ketakutan saat akan berbuat sesuatu.
Kesalahan pertama anak hendaknya dimaklumi kemudian diberi dorongan untuk
memperbaiki diri.
Contohnya saja, pada bulan pertama saya mengajar, kami membuat peta konsep
bersama-sama.
Dengan alasan untuk mempersingkat waktu, saya menyarankan anak-anak untuk
langsung menulis dengan spidol, karena banyak dari mereka yang berencana
menulis dengan pensil dahulu baru menebali dengan spidol.
Sebenarnya tidak apa, jika mengedepankan kerapihan dengan ‘zero mistake’.
Tetapi begitu saya mengatakan langsung pakai spidol, banyak anak-anak
terutama anak perempuan yang protes dan berkata,
“Buuu, pake pensil aja bu, nanti di salin biar ga salah.”
“Iya buuu, nanti kalo salah gimana bu? Dihapus ga bisa, di tip-ex ga bisa
ditulisi lagi, kan pake spidol?”
Saya membalas dengan tenang,
“Salah gapapa, tinggal dicoret. Ada coret-coret gapapa, yang penting
tulisannya jelas terbaca. SALAH TIDAK APA.”
Mereka lalu berkekspresi wajah yang tidak biasa, semacam heran campur
senang.
Mungkin mereka berpikir, “oh, boleh ya salah? Oh boleh ya dicoret? Berarti kalo
salah gapapa?”
Yang saya harapkan memang, mereka tidak harus takut berbuat salah. Bukan berarti
‘kesalahan’ laku yang jelas tidak boleh dilakukan seperti memukul, mengejek
dll. Tetapi tidak takut salah dalam berbicara, berpendapat, bertanya (untuk
memenuhi tuntutan rasa ingin tahu mereka) atau untuk sekedar menulis seperti
tadi.
Juga dalam kesalahan yang dilakukan anak seperti pada postingan saya
sebelumnya yaitu Pembelajaran Menantang yang Berharga.
Dalam suatu permasalahan terdapat kesalahan yang diperbuat anak.
Sebelum melakukan tindakan, saya selalu bertanya mengapa begitu atau apa
alasannya.
Seperti saat seorang anak lelaki ‘99’ yang pada suatu hari tidak masuk
sekolah tanpa keterangan. Keesokan harinya, Ia masuk sekolah seperti biasa dan
saya menanyainya.
Saya : “99, kamu kemarin kenapa gak
masuk? Sakit tah?”
99 : “Enggak sakit bu.”
Saya : “Terus kenapa kok gak masuk?”
99 : “Soalnya saya gak suka duduk
sebangku sama anak perempuan bu.”
Saya langsung menghentikan pembicaraan dan langsung membatin.
Bahkan anak memiliki alasan lebih besar
untuk tidak masuk sekolah daripada masuk sekolah dan belajar.
Duduk dengan anak perempuan lebih tidak
enak jika harus belajar di sekolah.
Jadi, tidak masuk sekolah lebih
menenangkan.
Sehingga, saya berpikir, anak-anak harus merasa aman dan nyaman terlebih
dahulu, baru mereka mau belajar atau dapat belajar.
Saya berharap lebih banyak lagi anak-anak yang tidak ‘takut’.
Saya berharap lebih banyak guru dan orang tua yang dapat mewujudkan
generasi yang tidak ‘takut’.
Langganan:
Postingan (Atom)