Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 27 April 2016
Senin, 14 Maret 2016
Kampus dan Sekolah
Hari ini datang dua orang mahasiswa melakukan observasi di
sekolah.
Saya yang baru saja menyelesaikan pendidikan S1 mengingat
kembali proses perkuliahan dulu.
Mahasiswa jurusan pendidikan beberapa kali diberi tugas
untuk mengamati langsung lingkungan sekolah atau observasi dengan cara yang
lain (seperti wawancara dengan guru atau siswa bersangkutan).
Yang biasanya kami lakukan adalah melakukan pengamatan
lingkungan sekolah, kemudian kami bahas plus-minus nya di kelas, bersama teman
sekelas dan dosen.
Kami menemukan permasalahan-permasalahan yang perlu
dicarikan solusi. Terkadang selama diskusi di kelas, kami langsung menemukan
solusi yang dirasa dapat menyelesaikan permasalahan yang ditemukan.
Tetapi
kemudian, solusi itu hanya menjadi informasi yang tersimpan dalam pembelajaran
kelas tersebut, tersimpan di lingkungan kampus saja.
Begitu juga dengan Tugas Akhir atau Skripsi mahasiswa
pendidikan. Kebanyakan hanya dikerjakan sebagai prasyarat kelulusan, walaupun
melakukan observasi dan penelitian dengan benar. Lebih banyak kesimpulan
penelitian atau produk pengembangan tersimpan rapat di kampus. Informasi itu
tersimpan diantara pemikiran para mahasiswa dan dosen. Jarang saya temui, hasil
penelitian pendidikan mahasiswa digunakan secara real di lapangan.
Hal ini terjadi karena belum adanya wadah yang menampung
hasil-hasil karya mahasiswa yang terhubung dengan pihak sekolah.
Saya jadi menyadari beberapa hal...
Kampus pendidik calon guru dengan sekolah di lapangan
belum terhubung dengan baik dan rapi. Buktinya masih ada gap permasalahan
mendasar semacam ini.
Juga, bapak-ibu guru yang sekolahnya diobservasi terkadang
menambahi dan mengurangi informasi yang diberikan agar sekolahnya terlihat
‘bagus’ dan tidak mau kekurangan yang ada di sekolah diketahui orang luar
sekolah (walaupun untuk kasus observasi mahasiswa sebagai tugas kuliahnya).
Hal ini terjadi karena, pihak sekolah merasa tidak
diuntungkan dari masuk-keluar nya para mahasiswa yang melakukan observasi di
sekolah mereka. Sehingga tidak ada ruginya jika ‘membaguskan’ sekolahnya dan
menutupi kekurangan-kekurangan sekolah.
Menurut saya hal ini adalah mis-komunikasi yang sangat besar
dan bahkan sampai tidak disadari.
Semacam, para guru membantu sedanya karena tidak diuntungkan
dan para mahasiswa mencari informasi seadanya demi kepentingan ‘tugas selesai’.
Padahal antara pihak kampus dan sekolah seharusnya
bersinergi.
Pihak kampus memiliki itikad baik, karena mencoba membuat
mahasiswanya mencari permasalah real di lapangan untuk dicarikan solusinya,
tetapi setelah perkuliahan usai, tidak ada kelanjutannya. Tugasnya diberi nilai
dan dilupakan.
Alangkah baiknya jika mahasiswa menemukan permasalahan di
sekolah, mendiskusikannya di kelas (kampus) bersama teman dan dosen, kemudian
menyampaikan usulan solusi terbaik kepada pihak sekolah sehingga turut berperan
serta.
Jika dari awal mahasiswa dituntut untuk menyampaikan solusi
permasalahan kepada pihak sekolah, mungkin saja sekolah akan merasa
diuntungkan.
Hal ini juga dapat mempengaruhi kejelasan informasi yang
diberikan pihak sekolah. Pihak sekolah akan memberikan informasi yang sesuai
dengan kondisi mereka agar mendapatkan solusi yang tepat.
Kesadaran saya ini berawal dari permasalahan nyata
yang saya amati kemudian saya memikirkannya dan mengusulkan
solusi terbaik (menurut saya) dari permasalahan ini. Terakhir cara saya
untuk menyampaikannya adalah dengan memposting hasil pemikiran saya di
blog ini.
Feel – Think – Imagine – Act.
Kamis, 11 Februari 2016
First Step to Build
Kamis, 11 Februari 2016
10.22
Saya adalah seorang pendidik dan pengajar non-formal
sebelumnya. Prinsip-prinsip dan idealisme saya sebagai seorang pendidik saya
teguhkan dalam hati selama mengajar. Walaupun beberapa hal belum bisa saya
lakukan karena satu dan lain hal.
“Saya ingin memiliki sekolah sendiri.”
Dalam artian, sekolah yang sesuai dengan prinsip dan
idealisme saya, agar saya dapat menerapkannya tanpa terbatas hal-hal yang tidak
terjangkau.
Salah satunya, saya menjadi tentor di sebuah LBB/Bimbel (lembaga
bimbingan belajar). Saya memang dapat mengajar mereka lebih detail, berdialog
lebih eksklusif seperti mendengarkan keluh kesah mereka tentang tugas, PR dan
cara mengajar guru-guru mereka. Sampai pada suatu waktu,beberapa siswa bimbel
saya merasa lelah atau bosan, sehingga benar-benar tidak mau belajar. Saya bisa
memohon mereka untuk belajar, tetapi tidak bisa memaksa baik secara kasar
maupun halus (jika mereka benar-benar sudah tidak mau belajar).
Suatu waktu, beberapa siswa datang membawa PR yang sangat
banyak sekali. PR dikasi hari ini, kerjakan LKS hlm 25-70 dikumpulkan besok.
Dalam hati saya...
Apa-apa an ini? Apa yang dipikirkan oleh ibu guru ini?
Mungkin ibu guru ini sakit dan tidak masuk dalam waktu yang
lama, mungkin karena LKSnya baru datang sedangkan UTS sudah mepet, mungkin
siswa ini berbohong padahal PR nya dikasi seminggu yang lalu, mungkin ibu ini
menjelaskan hal lain lebih banyak sehingga LKS tidak sempat dikerjakan, mungkin
ibu ini tidak kerasan di tempat kerjanya, mungkin ibu ini memiliki masalah
berat diluar sekolah.
Malam-malam dimana siswa membawa PR puluhan lembar, terpaksa
saya melakukan hal yang sangat saya tentang, yaitu mendekte jawaban tanpa siswa
berpikir bahkan membaca soalnya, jika terlalu lama bahkan saya terpaksa
menuliskan jawabannya di LKS. Saya sama sekali tidak menyetujui hal ini karena
tidak mendidik.
Buat apa sekolah kalau tidak berpikir dan berpangku tangan?
Lalu sekolah itu sebenarnya buat apa? Ooh, mungkin karena banyak orang
melakukannya, jadi akan memalukan jika tidak ikut-ikutan.
Saya baru menyadari bahwa pendidikan non-formal, khususnya
di sebuah bimbel tidak dapat dipungkiri bahwa...
Tentor dibayar karena memiliki tanggungjawab untuk
menyelesaikan semua PR siswa dan menerangkan ulang sampai paham jika siswa akan
Ulangan di setiap bab.
Saya pikir, saya tidak bisa menjadi pendidik seutuhnya (yang
mengajarkan selain materi juga sikap dan keterampilan), jika saya menjadi
seorang tentor.
Bagaimanapun harus menjadi guru di sekolah ya?
Pikir saya, menjadi guru di sekolah tetap terbatas dengan
kurikulum dan hal-hal administrasi lain. Waktunya juga terbatas.
Lalu... datanglah tawaran mengajar di sebuah MI.
Saya ragu, saya tidak mau. Tetapi saya kembali teringat
mimpi saya.
Kalau ingin memiliki sekolah, ya minimal belajar dulu
sekolah itu gimana.
Dengan masih terasa ragu, saya mencoba memantapkan hati
saya.
Masuklah saya ke MI mulai 4 Januari 2016 sebagai guru mata
pelajaran IPA, IPS dan TIK.
Rabu, 10 Februari 2016
Why Contextual Teaching and Learning (CTL)? Mengapa Pembelajaran Kontekstual?
First, read this...
Pembelajaran yang dikaitkan dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari (pembelajaran kontekstual) adalah pembelajaran yang berguna bagi siswa.
Jika siswa merasa hal itu berguna, mereka akan mempelajarinya secara alami (tanpa disuruh tanpa dipaksa).
Saya kurang setuju dengan pembelajaran yang mengharuskan siswa duduk diam tanpa bicara, mendongak berjam-jam mendengarkan ceramah guru, menyalin ratusan kalimat yang tidak mereka pahami apa maksudnya dan tertunduk sepanjang hari mengerjakan soal-soal dengan 'tidak berpikir'.
Anak-anak adalah manusia yang butuh diperlakukan seperti manusia. Bukan robot yang bisa disuruh-suruh tanpa membantah atau tanpa pemberontakan. Mereka manusia yang bisa lelah mendengarkan, menyalin atau duduk sepanjang hari.
Menurut saya Pembelajaran Kontekstual adalah pembelajaran yang dapat digunakan untuk pembelajaran kelas segala usia, segala jenjang dan segala topik (mata pelajaran).
[Pertanyaan pada pembelajaran tradisional]
Hari Koperasi diperingati pada tanggal?
Nama koperasi pada Jaman Jepang yaitu?
[Pertanyaan pada pembelajaran kontekstual]
Mengapa pada tanggal 12 Juli diperingati sebagai Hari Koperasi?
Mengapa koperasi didirikan?
See?
'Why?' is the key!
Learn-Plan-Act-Reflect
Kamis, 04 Februari 2016
Kamis, 21 Januari 2016
Setelah siswa selesai menangis...
Kamis, 21 Januari 2016
14.57
Masih teringat peristiwa Pembelajaran Menantang yang Berharga, Selasa lalu.
Jadi...
Setelah semua siswa ‘selesai’ menangis, saya berpikir keras,
apa yang harus saya lakukan di kelas ini.
Saya pikir untuk menjalankan pembelajaran di tengah suasana
kelas yang tidak kondusif seperti ini, akan sia-sia.
Saya kira, memberikan waktu kepada mereka untuk menenangkan
diri dan memikirkan apa yang telah dan akan mereka lakukan setelah ini, adalah
hal yang terbaik.
Kemudian, saya memanggil Nazriel dan berkata padanya,
“Zriel, titip kelas ya, anak-anak jangan ada yang boleh
keluar kelas sebelum ibu balik, ibu mau ambil leptop bentar.”
Dia mengiyakan dan langsung melakukan pengumuman setengah
berteriak.
Begitu saya kembali.
Saya membatin, Nazriel adalah anak yang berpotensi untuk
menjadi seorang pemimpin, karena memegang tanggung jawabnya.
Saya menggeser meja ke tengah kelas, menghidupkan leptop dan
memilih sebuah lagu yang saya pikir dapat menenangkan mereka.
Lagu instrumental dari sebuah film We Bought a Zoo dengan
judul lagu yang sama.
Saya memutar lagu itu dan melihat ekspresi para siswa,
terutama yang tadi menangis.
Perlahan mereka tenang dan terlihat melamun, semacam
merenungi apa yang telah terjadi, juga seperti mencoba berdamai dengan diri
masing-masing.
Setelah itu saya putarkan beberapa video menarik yang tetap
berhubungan dengan IPA. Agar setelah tenang, mereka terhibur dan moodnya dapat
kembali seperti semula.
15 menit terakhir, saya memutuskan untuk berdiskusi dengan
semua anggota kelas untuk proyek praktikum IPA selanjutnya.
Alhamdulillah, hampir semua siswa berpartisipasi. Bahkan siswa
yang tadinya menangis, maju ke depan dan ikut mengusulkan sesuatu agar
praktikum lebih menarik.
Kelas diawali dan diakhiri dengan menyenangkan.
Terimakasih 4A.
Ditulis dalam 19 Menit untuk Memori 4A
Selasa, 19 Januari 2016
Pembelajaran Menantang yang Berharga
Selasa, 19 Januari 2016
09.24
Pagi ini mengajar IPA di kelas 4A. Rencananya akan ada
ulasan artikel dan nantinya setiap kelompok maju presentasi.
Lalu beberapa kali seorang anak laki-laki yaitu XX, keluar
masuk kelas tanpa ijin bahkan tanpa rasa takut maupun bersalah. Hal ini sudah
terjadi 2 minggu ini semenjak semester genap diawali.
Saya membiarkannya karena mungkin XX perlu beberapa waktu
untuk nyaman di kelas saya, untuk merasa butuh dengan kelas saya. Tetapi tidak
untuk hari ini, saya sudah cukup memberikan toleransi.
XX masuk kelas untuk ketiga kalinya, setelah dia keluar
masuk tanpa ijin. Saya mencegatnya dan langsung menanyai, menegur dan
menasehatinya. Saya juga dengan tegas menyatakan ketidaksukaan saya paa
sikapnya. Kemudian saya mengumumkan di depan kelas...
“mulai hari ini, di kelas saya, tidak ada yang keluar masuk
tanpa ijin. Jika ingin keluar kelas untuk keperluan seperti ke kamar mandi atau
membuang sampah, silahkan, tetapi ijin dulu. Saya lo tidak melarang kalian untuk
lari-lari atau ‘ndlosor2 di kelas’ selama tidak dalam kondisi pembelajaran yang
membutuhkan kalian untuk tetap duduk, seperti diskusi, dialog interaktif dengan
guru atau sedang mengerjakan ulangan. Diluar itu, saya tidak melarang kalau
kalian ingin berpindah bangku, bertanya teman di mejanya dll.”
Saya lanjutnya KBM seperti biasa.
Lalu terdengar.... “Buuuu, XX nangis buuuu....”
Saya bilang, “iyaaa... gapapa....”
Saya pikir dia akan berhenti menangis dengan sendirinya jika
saya berkata seperti itu. Lalu saya
kembali berpikir, bagaimana jika saya berada di posisinya?
Tidak seharusnya saya menasihatinya didepan teman-temannya,
tidak seharusnya saya mengumumkan peraturan spontan saya didepan
teman-temannya.
Apa yang telah saya lakukan? Tidak seharusnya seperti ini,
saya harus menjadi orang yang dia percaya, karena saya adalah gurunya. Orang yang
menjadi jembatan ilmunya. Jika ia membenci dan tidak mempercayai saya, maka say
adalah guru yang gagal.
Saya menghampirinya, menyeka air matanya, memegang
pundaknya, sambil berkata...
“XX sudah jangan menangis lagi, la kamu se keluar-keluar
dari kelas, ibu kan jadi bingung. Jangan keluar-keluar lagi ya... Kalau mau ke
kamar mandi atau kenapa-napa, bilang dulu ke ibu. Kan jadi jelas, kamu kemana.
Wes, maaf yaa ibu tadi gitu ke kamu, wes ga usah nangis lagi...”
Dia memang sedang tersedu-sedu sepanjang saya berkata
padanya. Saya mencoba begitu keras untuk sehalus mungkin menghadapinya. Mencoba
meyakinkan dia bahwa saya tidak setuju dengan tindakannya dan sama sekali tidak
membenci dirinya.
XX, ibu pikir mungkin kamu marah dan membenci seseorang,
mungkin kamu memiliki permasalah lain, mungkin apa yang kamu lakukan adalah
untuk mencapai tahap ini, ‘lebih
diperhatikan oleh seseorang’. Mungkin seperti itu, mungkin tidak.
Terimakasih telah memberikan pembelajaran dan maafkan saya
yang masih belajar.
Kemudian...
“Buuuuu, XY nangis diganggu XA dan XB......”
Dalam hati, beneran? Apa bercanda?
Benarlah.....
XY saya tanyai dia diperlakukan seperti apa. XA dan XB saya
tanyai apakah benar yang dikatakan XY dan mengapa melakukannya. XA dan XB berkata
mereka bercanda terhadap XY karena dia buang sampah sembarangan.
Lalu saya berkata,
“Looh, kalau bercanda iku yang satu seneng yang lain juga
seneng. Bukan yang satu seneng yang lain susah... Kamu (XY) bener buang sampah
sembarangan?”
Ia mengiyakan. Pada intinya, mereka saya damaikan dengan saling
meminta maaf dan saling mengingatkan untuk tidak bertindak semena-mena serta membuang
sampah pada tempatnya.
Selesailah urusan, alhamdulillah ini lebih mudah dari
awal...
[XX, XY, XA dan XB adalah anak lelaki]
Kemudian....
“Buuuuuu, XC nangiiiis gara-gara XY.......”
[XC adalah anak perempuan]
Gara-gara hal itu, XY yang awalnya agak rentan akibat
kejadian sebelumnya, semakin rapuh dan akhirnya ikut menangis sambil menggebrak
diding (yang terbuat dari triplek).
Saya membatin, hari ini ada apa?
Tapi saya langsung menghampirinya, menanyainya apa alasannya
dan mencoba menenangkannya.
Saya mengambil laptop, menayangkan beberapa video untuk
menghibur anak-anak. Saya kira percuma melaksanakan pembelajaran
ditengah-tengah siswa yang sedang marah, bersedih dan tidak stabil.
Alhamdulillah, lima orang siswa tadi ikut tenang dan
bersikap seperti biasa, walaupun terlihat sembab matanya.
Bahkan XX yang awalnya saya kira masih akan marah, malah
menyapa saya sambil tersenyum, alhamdulillah (bahkan saya terharu didalam
kelas).
Terimakasih banyak atas pembelajaran yang menantang hari
ini, saya menantikan hari yang menantang ini. Saya pikir saya tidak akan bisa
sebelumnya. Tetapi kemudian, saya bisa. Maafkan juga saya yang masih belajar
ini.
Kembali saya ulang,
“Kita tidak tahu siapa diri kita sampai datang momennya.”
Minggu, 18 Januari 2015
90 vs 30
“Seorang guru kecewa terhadap siswanya yang mendapat nilai 90 tetapi bangga terhadap siswa lainnya yang hanya mendapatkan nilai 30.”
Apa yang sebenarnya terjadi?
Saya
sebagai mahasiswa jurusan pendidikan harus menempuh PPL di sekolah. Kegiatannya
berupa praktik menjadi guru dalam waktu 1,5 bulan. Mulai 9 Januari, saya sudah
mengikuti kegiatan sekolah, kemudian diberikan tanggung jawab mengajar 2 kelas
X dan membantu mengajar 2 kelas Lintas Minat.
Jumat,
16 Januari 2015 saya membantu mengajar kelas Lintas Minat (LM) Biologi yang
berisikan 8 siswa kelas X IIS (IPS). Seorang diantaranya berasal dari Papua,
namanya Raimundus. Raimundus mendapatkan beasiswa untuk sekolah di Jawa dengan
4 teman lainnya (yang semuanya laki-laki).
Hari
itu saya mendampingi Ibu Y mengajar di kelas LM Biologi pada BAB Jamur. Awalnya
siswa disuruh untuk mengisi tabel peranan jamur bagi kehidupan sesuai dengan
buku paket. Kemudian untuk evaluasi BAB Jamur, Ibu Y menginstruksikan siswa
untuk mengerjakan soal pilihan ganda yang ada di buku paket, siswa menyalin
pertanyaan dan jawabannya di buku tulis masing-masing. Ketika siswa lain mulai
menyalin soal nomer 1, seorang siswa bernama R menemukan kunci jawaban
soal-soal di bagian akhir buku (memang bagian dari buku paketnya, yang
menyediakan kunci jawaban). Sehingga kelompok siswa tersebut langsung gaduh dan
berpandangan tersenyum ‘ingin curang’. Ibu Y mengetahui hal ini, kemudian
berkata, “Kalau kalian melihat kunci jawaban, nanti saya suruh mengerjakan soal
uraian lo!”.
Dari 8
siswa, 2 diantaranya melihat kunci jawaban dan menyebarkannya ke seluruh siswa,
beberapa kali siswa dengan terang-terangan menyontek temannya dan ketahuan akan
membuka kunci jawaban. Tetapi tidak ada tindakan. Namun, satu hal yang membuat
saya tertarik, Raimun. Raimun terlihat berusaha keras menyalin tulisan dan
menjawab soal tersebut dengan jujur. Ketika waktu sudah habis, ke-7 siswa
mengumpulkan bukunya dengan santai, tetapi tidak dengan Raimun. Raimun terlihat
kebingungan, mungkin seperti berkata, “Aduh, bagaimana ini, menulis soalnya
saja belum selesai, jawaban juga ada yang belum.” Tetapi kemudian Raimun tetap
mengumpulkan bukunya.
Ketika
melihat betapa bersusah payahnya Raimun, dalam hati saya berkata, “Oh
Raimundus, mungkin kamu akan lebih bahagia dan lebih berguna di tempat asalmu.
Jika kamu masih tetap disana, mungkin saja sekarang kamu sudah mahir memancing
ikan, memanjat pohon tertinggi, menyelami lautan indah Papua, berburu hewan
liar untuk dimakan dan memiliki banyak keterampilan lahiriah khas Papua. Oh
Raimundus, betapa malang dirimu disini. Mungkin saja awalnya kamu senang bukan
kepalang saat mengetahui kamu mendapat beasiswa dan akan naik pesawat terbang
ke Jawa ‘Pulau Impianmu. Tetapi setelah mengikuti sekolah disini, kamu terlihat
paling berbeda, paling diperhatikan dan paling ‘kurang’. Mungkin kadang kamu
masih tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan gurumu di depan kelas, kamu
juga tidak mengerti mengapa sekolah disini pekerjaannya hanya menulis dan lebih
banyak menulis (baca: menyalin). Lalu, mungkin saja kamu merindukan rumah,
teman dan keluargamu. Oh, Raimundus yang malang, hati Ibu tersayat melihatmu
seperti ini.”
Sabtu,
17 Januari 2015, saya mengoreksi pekerjaan 8 siswa LM yang dikumpulkan hari
Jumat kemarin. Ke-7 orang mendapatkan nilai 90, tetapi saya beri emoticon sedih dengan tulisan “hope you
try to be honest!”. Artinya walaupun nilai mereka 90, tetapi saya tahu bahwa
mereka curang (melihat kunci jawaban) dan berharap agar mereka mencoba untuk
jujur (coba jujur dulu dan seterusnya jujur). Kemudian sampailah pada buku
milik Raimundus. Bukunya bertuliskan nama dan kelasnya, tetapi dengan tulisan
“buku Bahasa Indonesia”, terlihat catatan-catatan pelajaran bahasa
Indonesiapada lembar awal, pada lembar-lembar akhir ada catatan pelajaran
Sosiologi dan pada bagian tengah buku ada hasil pekerjaannya Ujian BAB Jamur.
Tulisannya memang tidak begitu rapi, soal berhenti pada nomer 7 dan jawaban
berhenti pada nomer 5. 3 jawaban benar, 2 jawaban salah dan sisanya kosong.
Kenyataannya adalah Raimundus mendapatkan nilai 30, karena berhasil menjawab 3
soal dengan benar dari 10 soal. Tetapi kemudian saya beri tulisan
“30+honesty+hard work=100, congratulation Raimundus, I Appreciate your hardwork
and thank you for being honest!”.
“Betapa
berharganya kerja keras yang jujur sehingga tidak ternilai”
Doa Ibu Sofiya untuk Raimundus dan siswa lainnya yang serupa
(senasib) dengannya di seluruh dunia,
“Semoga anak-anak seperti kalian bertemu dengan orang yang
tepat dan menemukan jalan kesuksesan kalian dalam menjadi insan yang menjadi
dan menjadikan masyarakat yang baik, sehingga kehidupan menjadi baik. Amin”
Label:
College,
education,
Inspiration,
Life,
Memory,
Pendidikan,
Sekolah
Langganan:
Postingan (Atom)









































