Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 April 2016

Tugas Poster IPA 4 SD/MI - Tema: Kegunaan dan Kerugian Fenomena Alam


Topik : Perubahan Alam
Jenis Tugas : Poster (Berkelompok)
Tema : Kegunaan dan Kerugian Fenomena Alam (Matahari, Angin, Hujan, Gempa, Gelombang Air Laut, dan Gunung Meletus)
Waktu : 60 Menit
Tujuan : Siswa mengetahui kegunaan dan kerugian dari fenomena alam yang terjadi di kehidupan sehari-hari.















































































































































Tugas Karya Tulis IPA 4 SD/MI - Tema: Keindahan Pantai

Topik : Perubahan Alam
Jenis Tugas : Karya Tulis (Berkelompok)
Tema : Keindahan Pantai
Waktu : 60-90 Menit
Tujuan : Siswa dapat menyadari akan kekagumannya terhadap keindahan pantai, sehingga jika pantai mengalami perubahan (rusak), siswa akan merasa hal itu tidak seharusnya terjadi.















Senin, 14 Maret 2016

Kampus dan Sekolah



22.24 – 14 Maret 2016


Hari ini datang dua orang mahasiswa melakukan observasi di sekolah.

Saya yang baru saja menyelesaikan pendidikan S1 mengingat kembali proses perkuliahan dulu.

Mahasiswa jurusan pendidikan beberapa kali diberi tugas untuk mengamati langsung lingkungan sekolah atau observasi dengan cara yang lain (seperti wawancara dengan guru atau siswa bersangkutan).

Yang biasanya kami lakukan adalah melakukan pengamatan lingkungan sekolah, kemudian kami bahas plus-minus nya di kelas, bersama teman sekelas dan dosen.

Kami menemukan permasalahan-permasalahan yang perlu dicarikan solusi. Terkadang selama diskusi di kelas, kami langsung menemukan solusi yang dirasa dapat menyelesaikan permasalahan yang ditemukan. 

Tetapi kemudian, solusi itu hanya menjadi informasi yang tersimpan dalam pembelajaran kelas tersebut, tersimpan di lingkungan kampus saja.

Begitu juga dengan Tugas Akhir atau Skripsi mahasiswa pendidikan. Kebanyakan hanya dikerjakan sebagai prasyarat kelulusan, walaupun melakukan observasi dan penelitian dengan benar. Lebih banyak kesimpulan penelitian atau produk pengembangan tersimpan rapat di kampus. Informasi itu tersimpan diantara pemikiran para mahasiswa dan dosen. Jarang saya temui, hasil penelitian pendidikan mahasiswa digunakan secara real di lapangan.

Hal ini terjadi karena belum adanya wadah yang menampung hasil-hasil karya mahasiswa yang terhubung dengan pihak sekolah.

Saya jadi menyadari beberapa hal...

Kampus pendidik calon guru dengan sekolah di lapangan belum terhubung dengan baik dan rapi. Buktinya masih ada gap permasalahan mendasar semacam ini.

Juga, bapak-ibu guru yang sekolahnya diobservasi terkadang menambahi dan mengurangi informasi yang diberikan agar sekolahnya terlihat ‘bagus’ dan tidak mau kekurangan yang ada di sekolah diketahui orang luar sekolah (walaupun untuk kasus observasi mahasiswa sebagai tugas kuliahnya).

Hal ini terjadi karena, pihak sekolah merasa tidak diuntungkan dari masuk-keluar nya para mahasiswa yang melakukan observasi di sekolah mereka. Sehingga tidak ada ruginya jika ‘membaguskan’ sekolahnya dan menutupi kekurangan-kekurangan sekolah.

Menurut saya hal ini adalah mis-komunikasi yang sangat besar dan bahkan sampai tidak disadari.
Semacam, para guru membantu sedanya karena tidak diuntungkan dan para mahasiswa mencari informasi seadanya demi kepentingan ‘tugas selesai’.

Padahal antara pihak kampus dan sekolah seharusnya bersinergi.

Pihak kampus memiliki itikad baik, karena mencoba membuat mahasiswanya mencari permasalah real di lapangan untuk dicarikan solusinya, tetapi setelah perkuliahan usai, tidak ada kelanjutannya. Tugasnya diberi nilai dan dilupakan.

Alangkah baiknya jika mahasiswa menemukan permasalahan di sekolah, mendiskusikannya di kelas (kampus) bersama teman dan dosen, kemudian menyampaikan usulan solusi terbaik kepada pihak sekolah sehingga turut berperan serta.

Jika dari awal mahasiswa dituntut untuk menyampaikan solusi permasalahan kepada pihak sekolah, mungkin saja sekolah akan merasa diuntungkan.

Hal ini juga dapat mempengaruhi kejelasan informasi yang diberikan pihak sekolah. Pihak sekolah akan memberikan informasi yang sesuai dengan kondisi mereka agar mendapatkan solusi yang tepat.

Kesadaran saya ini berawal dari permasalahan nyata yang saya amati kemudian saya memikirkannya dan mengusulkan solusi terbaik (menurut saya) dari permasalahan ini. Terakhir cara saya untuk menyampaikannya adalah dengan memposting hasil pemikiran saya di blog ini.

Feel – Think – Imagine – Act.

Kamis, 11 Februari 2016

First Step to Build

Kamis, 11 Februari 2016
10.22

Saya adalah seorang pendidik dan pengajar non-formal sebelumnya. Prinsip-prinsip dan idealisme saya sebagai seorang pendidik saya teguhkan dalam hati selama mengajar. Walaupun beberapa hal belum bisa saya lakukan karena satu dan lain hal.

“Saya ingin memiliki sekolah sendiri.”



Dalam artian, sekolah yang sesuai dengan prinsip dan idealisme saya, agar saya dapat menerapkannya tanpa terbatas hal-hal yang tidak terjangkau.

Salah satunya, saya menjadi tentor di sebuah LBB/Bimbel (lembaga bimbingan belajar). Saya memang dapat mengajar mereka lebih detail, berdialog lebih eksklusif seperti mendengarkan keluh kesah mereka tentang tugas, PR dan cara mengajar guru-guru mereka. Sampai pada suatu waktu,beberapa siswa bimbel saya merasa lelah atau bosan, sehingga benar-benar tidak mau belajar. Saya bisa memohon mereka untuk belajar, tetapi tidak bisa memaksa baik secara kasar maupun halus (jika mereka benar-benar sudah tidak mau belajar).

Suatu waktu, beberapa siswa datang membawa PR yang sangat banyak sekali. PR dikasi hari ini, kerjakan LKS hlm 25-70 dikumpulkan besok.

Dalam hati saya...

Apa-apa an ini? Apa yang dipikirkan oleh ibu guru ini?
Mungkin ibu guru ini sakit dan tidak masuk dalam waktu yang lama, mungkin karena LKSnya baru datang sedangkan UTS sudah mepet, mungkin siswa ini berbohong padahal PR nya dikasi seminggu yang lalu, mungkin ibu ini menjelaskan hal lain lebih banyak sehingga LKS tidak sempat dikerjakan, mungkin ibu ini tidak kerasan di tempat kerjanya, mungkin ibu ini memiliki masalah berat diluar sekolah.

Malam-malam dimana siswa membawa PR puluhan lembar, terpaksa saya melakukan hal yang sangat saya tentang, yaitu mendekte jawaban tanpa siswa berpikir bahkan membaca soalnya, jika terlalu lama bahkan saya terpaksa menuliskan jawabannya di LKS. Saya sama sekali tidak menyetujui hal ini karena tidak mendidik.

Buat apa sekolah kalau tidak berpikir dan berpangku tangan? Lalu sekolah itu sebenarnya buat apa? Ooh, mungkin karena banyak orang melakukannya, jadi akan memalukan jika tidak ikut-ikutan.

Saya baru menyadari bahwa pendidikan non-formal, khususnya di sebuah bimbel tidak dapat dipungkiri bahwa...

Tentor dibayar karena memiliki tanggungjawab untuk menyelesaikan semua PR siswa dan menerangkan ulang sampai paham jika siswa akan Ulangan di setiap bab.

Saya pikir, saya tidak bisa menjadi pendidik seutuhnya (yang mengajarkan selain materi juga sikap dan keterampilan), jika saya menjadi seorang tentor.

Bagaimanapun harus menjadi guru di sekolah ya?
Pikir saya, menjadi guru di sekolah tetap terbatas dengan kurikulum dan hal-hal administrasi lain. Waktunya juga terbatas.

Lalu... datanglah tawaran mengajar di sebuah MI.

Saya ragu, saya tidak mau. Tetapi saya kembali teringat mimpi saya.
Kalau ingin memiliki sekolah, ya minimal belajar dulu sekolah itu gimana.
Dengan masih terasa ragu, saya mencoba memantapkan hati saya.


Masuklah saya ke MI mulai 4 Januari 2016 sebagai guru mata pelajaran IPA, IPS dan TIK.

Rabu, 10 Februari 2016

Why Contextual Teaching and Learning (CTL)? Mengapa Pembelajaran Kontekstual?

First, read this...




Pembelajaran yang dikaitkan dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari (pembelajaran kontekstual) adalah pembelajaran yang berguna bagi siswa. 

Jika siswa merasa hal itu berguna, mereka akan mempelajarinya secara alami (tanpa disuruh tanpa dipaksa).

Saya kurang setuju dengan pembelajaran yang mengharuskan siswa duduk diam tanpa bicara, mendongak berjam-jam mendengarkan ceramah guru, menyalin ratusan kalimat yang tidak mereka pahami apa maksudnya dan tertunduk sepanjang hari mengerjakan soal-soal dengan 'tidak berpikir'.

Anak-anak adalah manusia yang butuh diperlakukan seperti manusia. Bukan robot yang bisa disuruh-suruh tanpa membantah atau tanpa pemberontakan. Mereka manusia yang bisa lelah mendengarkan, menyalin atau duduk sepanjang hari.

Menurut saya Pembelajaran Kontekstual adalah pembelajaran yang dapat digunakan untuk pembelajaran kelas segala usia, segala jenjang dan segala topik (mata pelajaran).

[Pertanyaan pada pembelajaran tradisional]
Hari Koperasi diperingati pada tanggal?
Nama koperasi pada Jaman Jepang yaitu?

[Pertanyaan pada pembelajaran kontekstual]
Mengapa pada tanggal 12 Juli diperingati sebagai Hari Koperasi?
Mengapa koperasi didirikan?

See?
'Why?' is the key!



Learn-Plan-Act-Reflect

Kamis, 21 Januari 2016

Setelah siswa selesai menangis...

 

Kamis, 21 Januari 2016
14.57

Masih teringat peristiwa Pembelajaran Menantang yang Berharga, Selasa lalu.

Jadi...

Setelah semua siswa ‘selesai’ menangis, saya berpikir keras, apa yang harus saya lakukan di kelas ini.

Saya pikir untuk menjalankan pembelajaran di tengah suasana kelas yang tidak kondusif seperti ini, akan sia-sia.

Saya kira, memberikan waktu kepada mereka untuk menenangkan diri dan memikirkan apa yang telah dan akan mereka lakukan setelah ini, adalah hal yang terbaik.

Kemudian, saya memanggil Nazriel dan berkata padanya,

“Zriel, titip kelas ya, anak-anak jangan ada yang boleh keluar kelas sebelum ibu balik, ibu mau ambil leptop bentar.”

Dia mengiyakan dan langsung melakukan pengumuman setengah berteriak.

Begitu saya kembali.

Saya membatin, Nazriel adalah anak yang berpotensi untuk menjadi seorang pemimpin, karena memegang tanggung jawabnya.

Saya menggeser meja ke tengah kelas, menghidupkan leptop dan memilih sebuah lagu yang saya pikir dapat menenangkan mereka.

Lagu instrumental dari sebuah film We Bought a Zoo dengan judul lagu yang sama.

Saya memutar lagu itu dan melihat ekspresi para siswa, terutama yang tadi menangis.

Perlahan mereka tenang dan terlihat melamun, semacam merenungi apa yang telah terjadi, juga seperti mencoba berdamai dengan diri masing-masing.

Setelah itu saya putarkan beberapa video menarik yang tetap berhubungan dengan IPA. Agar setelah tenang, mereka terhibur dan moodnya dapat kembali seperti semula.

15 menit terakhir, saya memutuskan untuk berdiskusi dengan semua anggota kelas untuk proyek praktikum IPA selanjutnya.

Alhamdulillah, hampir semua siswa berpartisipasi. Bahkan siswa yang tadinya menangis, maju ke depan dan ikut mengusulkan sesuatu agar praktikum lebih menarik.

Kelas diawali dan diakhiri dengan menyenangkan.


Terimakasih 4A.

Ditulis dalam 19 Menit untuk Memori 4A

Selasa, 19 Januari 2016

Pembelajaran Menantang yang Berharga



Selasa, 19 Januari 2016
09.24

Pagi ini mengajar IPA di kelas 4A. Rencananya akan ada ulasan artikel dan nantinya setiap kelompok maju presentasi.

Lalu beberapa kali seorang anak laki-laki yaitu XX, keluar masuk kelas tanpa ijin bahkan tanpa rasa takut maupun bersalah. Hal ini sudah terjadi 2 minggu ini semenjak semester genap diawali.

Saya membiarkannya karena mungkin XX perlu beberapa waktu untuk nyaman di kelas saya, untuk merasa butuh dengan kelas saya. Tetapi tidak untuk hari ini, saya sudah cukup memberikan toleransi.
XX masuk kelas untuk ketiga kalinya, setelah dia keluar masuk tanpa ijin. Saya mencegatnya dan langsung menanyai, menegur dan menasehatinya. Saya juga dengan tegas menyatakan ketidaksukaan saya paa sikapnya. Kemudian saya mengumumkan di depan kelas...

“mulai hari ini, di kelas saya, tidak ada yang keluar masuk tanpa ijin. Jika ingin keluar kelas untuk keperluan seperti ke kamar mandi atau membuang sampah, silahkan, tetapi ijin dulu. Saya lo tidak melarang kalian untuk lari-lari atau ‘ndlosor2 di kelas’ selama tidak dalam kondisi pembelajaran yang membutuhkan kalian untuk tetap duduk, seperti diskusi, dialog interaktif dengan guru atau sedang mengerjakan ulangan. Diluar itu, saya tidak melarang kalau kalian ingin berpindah bangku, bertanya teman di mejanya dll.”

Saya lanjutnya KBM seperti biasa.

Lalu terdengar.... “Buuuu, XX nangis buuuu....”

Saya bilang, “iyaaa... gapapa....”

Saya pikir dia akan berhenti menangis dengan sendirinya jika saya berkata seperti itu.  Lalu saya kembali berpikir, bagaimana jika saya berada di posisinya?

Tidak seharusnya saya menasihatinya didepan teman-temannya, tidak seharusnya saya mengumumkan peraturan spontan saya didepan teman-temannya.

Apa yang telah saya lakukan? Tidak seharusnya seperti ini, saya harus menjadi orang yang dia percaya, karena saya adalah gurunya. Orang yang menjadi jembatan ilmunya. Jika ia membenci dan tidak mempercayai saya, maka say adalah guru yang gagal.

Saya menghampirinya, menyeka air matanya, memegang pundaknya, sambil berkata...

“XX sudah jangan menangis lagi, la kamu se keluar-keluar dari kelas, ibu kan jadi bingung. Jangan keluar-keluar lagi ya... Kalau mau ke kamar mandi atau kenapa-napa, bilang dulu ke ibu. Kan jadi jelas, kamu kemana. Wes, maaf yaa ibu tadi gitu ke kamu, wes ga usah nangis lagi...”

Dia memang sedang tersedu-sedu sepanjang saya berkata padanya. Saya mencoba begitu keras untuk sehalus mungkin menghadapinya. Mencoba meyakinkan dia bahwa saya tidak setuju dengan tindakannya dan sama sekali tidak membenci dirinya.

XX, ibu pikir mungkin kamu marah dan membenci seseorang, mungkin kamu memiliki permasalah lain, mungkin apa yang kamu lakukan adalah untuk mencapai  tahap ini, ‘lebih diperhatikan oleh seseorang’. Mungkin seperti itu, mungkin tidak.

Terimakasih telah memberikan pembelajaran dan maafkan saya yang masih belajar.

Kemudian...

“Buuuuu, XY nangis diganggu XA dan XB......”

Dalam hati, beneran? Apa bercanda?

Benarlah.....
XY saya tanyai dia diperlakukan seperti apa. XA dan XB saya tanyai apakah benar yang dikatakan XY dan mengapa melakukannya. XA dan XB berkata mereka bercanda terhadap XY karena dia buang sampah sembarangan.

Lalu saya berkata,

“Looh, kalau bercanda iku yang satu seneng yang lain juga seneng. Bukan yang satu seneng yang lain susah... Kamu (XY) bener buang sampah sembarangan?”
Ia mengiyakan. Pada intinya, mereka saya damaikan dengan saling meminta maaf dan saling mengingatkan untuk tidak bertindak semena-mena serta membuang sampah pada tempatnya.
Selesailah urusan, alhamdulillah ini lebih mudah dari awal...

[XX, XY, XA dan XB adalah anak lelaki]

Kemudian....

“Buuuuuu, XC nangiiiis gara-gara XY.......”

[XC adalah anak perempuan]

Gara-gara hal itu, XY yang awalnya agak rentan akibat kejadian sebelumnya, semakin rapuh dan akhirnya ikut menangis sambil menggebrak diding (yang terbuat dari triplek).

Saya membatin, hari ini ada apa?

Tapi saya langsung menghampirinya, menanyainya apa alasannya dan mencoba menenangkannya.
Saya mengambil laptop, menayangkan beberapa video untuk menghibur anak-anak. Saya kira percuma melaksanakan pembelajaran ditengah-tengah siswa yang sedang marah, bersedih dan tidak stabil.

Alhamdulillah, lima orang siswa tadi ikut tenang dan bersikap seperti biasa, walaupun terlihat sembab matanya.

Bahkan XX yang awalnya saya kira masih akan marah, malah menyapa saya sambil tersenyum, alhamdulillah (bahkan saya terharu didalam kelas).

Terimakasih banyak atas pembelajaran yang menantang hari ini, saya menantikan hari yang menantang ini. Saya pikir saya tidak akan bisa sebelumnya. Tetapi kemudian, saya bisa. Maafkan juga saya yang masih belajar ini.

Kembali saya ulang,


“Kita tidak tahu siapa diri kita sampai datang momennya.”


Minggu, 18 Januari 2015

90 vs 30


“Seorang guru kecewa terhadap siswanya yang mendapat nilai 90 tetapi bangga terhadap siswa lainnya yang hanya mendapatkan nilai 30.”

Apa yang sebenarnya terjadi?
                
Saya sebagai mahasiswa jurusan pendidikan harus menempuh PPL di sekolah. Kegiatannya berupa praktik menjadi guru dalam waktu 1,5 bulan. Mulai 9 Januari, saya sudah mengikuti kegiatan sekolah, kemudian diberikan tanggung jawab mengajar 2 kelas X dan membantu mengajar 2 kelas Lintas Minat.

Jumat, 16 Januari 2015 saya membantu mengajar kelas Lintas Minat (LM) Biologi yang berisikan 8 siswa kelas X IIS (IPS). Seorang diantaranya berasal dari Papua, namanya Raimundus. Raimundus mendapatkan beasiswa untuk sekolah di Jawa dengan 4 teman lainnya (yang semuanya laki-laki).
Hari itu saya mendampingi Ibu Y mengajar di kelas LM Biologi pada BAB Jamur. Awalnya siswa disuruh untuk mengisi tabel peranan jamur bagi kehidupan sesuai dengan buku paket. Kemudian untuk evaluasi BAB Jamur, Ibu Y menginstruksikan siswa untuk mengerjakan soal pilihan ganda yang ada di buku paket, siswa menyalin pertanyaan dan jawabannya di buku tulis masing-masing. Ketika siswa lain mulai menyalin soal nomer 1, seorang siswa bernama R menemukan kunci jawaban soal-soal di bagian akhir buku (memang bagian dari buku paketnya, yang menyediakan kunci jawaban). Sehingga kelompok siswa tersebut langsung gaduh dan berpandangan tersenyum ‘ingin curang’. Ibu Y mengetahui hal ini, kemudian berkata, “Kalau kalian melihat kunci jawaban, nanti saya suruh mengerjakan soal uraian lo!”.

Dari 8 siswa, 2 diantaranya melihat kunci jawaban dan menyebarkannya ke seluruh siswa, beberapa kali siswa dengan terang-terangan menyontek temannya dan ketahuan akan membuka kunci jawaban. Tetapi tidak ada tindakan. Namun, satu hal yang membuat saya tertarik, Raimun. Raimun terlihat berusaha keras menyalin tulisan dan menjawab soal tersebut dengan jujur. Ketika waktu sudah habis, ke-7 siswa mengumpulkan bukunya dengan santai, tetapi tidak dengan Raimun. Raimun terlihat kebingungan, mungkin seperti berkata, “Aduh, bagaimana ini, menulis soalnya saja belum selesai, jawaban juga ada yang belum.” Tetapi kemudian Raimun tetap mengumpulkan bukunya.

Ketika melihat betapa bersusah payahnya Raimun, dalam hati saya berkata, “Oh Raimundus, mungkin kamu akan lebih bahagia dan lebih berguna di tempat asalmu. Jika kamu masih tetap disana, mungkin saja sekarang kamu sudah mahir memancing ikan, memanjat pohon tertinggi, menyelami lautan indah Papua, berburu hewan liar untuk dimakan dan memiliki banyak keterampilan lahiriah khas Papua. Oh Raimundus, betapa malang dirimu disini. Mungkin saja awalnya kamu senang bukan kepalang saat mengetahui kamu mendapat beasiswa dan akan naik pesawat terbang ke Jawa ‘Pulau Impianmu. Tetapi setelah mengikuti sekolah disini, kamu terlihat paling berbeda, paling diperhatikan dan paling ‘kurang’. Mungkin kadang kamu masih tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan gurumu di depan kelas, kamu juga tidak mengerti mengapa sekolah disini pekerjaannya hanya menulis dan lebih banyak menulis (baca: menyalin). Lalu, mungkin saja kamu merindukan rumah, teman dan keluargamu. Oh, Raimundus yang malang, hati Ibu tersayat melihatmu seperti ini.”

Sabtu, 17 Januari 2015, saya mengoreksi pekerjaan 8 siswa LM yang dikumpulkan hari Jumat kemarin. Ke-7 orang mendapatkan nilai 90, tetapi saya beri emoticon sedih dengan tulisan “hope you try to be honest!”. Artinya walaupun nilai mereka 90, tetapi saya tahu bahwa mereka curang (melihat kunci jawaban) dan berharap agar mereka mencoba untuk jujur (coba jujur dulu dan seterusnya jujur). Kemudian sampailah pada buku milik Raimundus. Bukunya bertuliskan nama dan kelasnya, tetapi dengan tulisan “buku Bahasa Indonesia”, terlihat catatan-catatan pelajaran bahasa Indonesiapada lembar awal, pada lembar-lembar akhir ada catatan pelajaran Sosiologi dan pada bagian tengah buku ada hasil pekerjaannya Ujian BAB Jamur. Tulisannya memang tidak begitu rapi, soal berhenti pada nomer 7 dan jawaban berhenti pada nomer 5. 3 jawaban benar, 2 jawaban salah dan sisanya kosong. Kenyataannya adalah Raimundus mendapatkan nilai 30, karena berhasil menjawab 3 soal dengan benar dari 10 soal. Tetapi kemudian saya beri tulisan “30+honesty+hard work=100, congratulation Raimundus, I Appreciate your hardwork and thank you for being honest!”.

      “Betapa berharganya kerja keras yang jujur sehingga tidak ternilai”

Doa Ibu Sofiya untuk Raimundus dan siswa lainnya yang serupa (senasib) dengannya di seluruh dunia,


“Semoga anak-anak seperti kalian bertemu dengan orang yang tepat dan menemukan jalan kesuksesan kalian dalam menjadi insan yang menjadi dan menjadikan masyarakat yang baik, sehingga kehidupan menjadi baik. Amin”