Tampilkan postingan dengan label Memory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memory. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Januari 2016

Setelah siswa selesai menangis...

 

Kamis, 21 Januari 2016
14.57

Masih teringat peristiwa Pembelajaran Menantang yang Berharga, Selasa lalu.

Jadi...

Setelah semua siswa ‘selesai’ menangis, saya berpikir keras, apa yang harus saya lakukan di kelas ini.

Saya pikir untuk menjalankan pembelajaran di tengah suasana kelas yang tidak kondusif seperti ini, akan sia-sia.

Saya kira, memberikan waktu kepada mereka untuk menenangkan diri dan memikirkan apa yang telah dan akan mereka lakukan setelah ini, adalah hal yang terbaik.

Kemudian, saya memanggil Nazriel dan berkata padanya,

“Zriel, titip kelas ya, anak-anak jangan ada yang boleh keluar kelas sebelum ibu balik, ibu mau ambil leptop bentar.”

Dia mengiyakan dan langsung melakukan pengumuman setengah berteriak.

Begitu saya kembali.

Saya membatin, Nazriel adalah anak yang berpotensi untuk menjadi seorang pemimpin, karena memegang tanggung jawabnya.

Saya menggeser meja ke tengah kelas, menghidupkan leptop dan memilih sebuah lagu yang saya pikir dapat menenangkan mereka.

Lagu instrumental dari sebuah film We Bought a Zoo dengan judul lagu yang sama.

Saya memutar lagu itu dan melihat ekspresi para siswa, terutama yang tadi menangis.

Perlahan mereka tenang dan terlihat melamun, semacam merenungi apa yang telah terjadi, juga seperti mencoba berdamai dengan diri masing-masing.

Setelah itu saya putarkan beberapa video menarik yang tetap berhubungan dengan IPA. Agar setelah tenang, mereka terhibur dan moodnya dapat kembali seperti semula.

15 menit terakhir, saya memutuskan untuk berdiskusi dengan semua anggota kelas untuk proyek praktikum IPA selanjutnya.

Alhamdulillah, hampir semua siswa berpartisipasi. Bahkan siswa yang tadinya menangis, maju ke depan dan ikut mengusulkan sesuatu agar praktikum lebih menarik.

Kelas diawali dan diakhiri dengan menyenangkan.


Terimakasih 4A.

Ditulis dalam 19 Menit untuk Memori 4A

Selasa, 19 Januari 2016

Pembelajaran Menantang yang Berharga



Selasa, 19 Januari 2016
09.24

Pagi ini mengajar IPA di kelas 4A. Rencananya akan ada ulasan artikel dan nantinya setiap kelompok maju presentasi.

Lalu beberapa kali seorang anak laki-laki yaitu XX, keluar masuk kelas tanpa ijin bahkan tanpa rasa takut maupun bersalah. Hal ini sudah terjadi 2 minggu ini semenjak semester genap diawali.

Saya membiarkannya karena mungkin XX perlu beberapa waktu untuk nyaman di kelas saya, untuk merasa butuh dengan kelas saya. Tetapi tidak untuk hari ini, saya sudah cukup memberikan toleransi.
XX masuk kelas untuk ketiga kalinya, setelah dia keluar masuk tanpa ijin. Saya mencegatnya dan langsung menanyai, menegur dan menasehatinya. Saya juga dengan tegas menyatakan ketidaksukaan saya paa sikapnya. Kemudian saya mengumumkan di depan kelas...

“mulai hari ini, di kelas saya, tidak ada yang keluar masuk tanpa ijin. Jika ingin keluar kelas untuk keperluan seperti ke kamar mandi atau membuang sampah, silahkan, tetapi ijin dulu. Saya lo tidak melarang kalian untuk lari-lari atau ‘ndlosor2 di kelas’ selama tidak dalam kondisi pembelajaran yang membutuhkan kalian untuk tetap duduk, seperti diskusi, dialog interaktif dengan guru atau sedang mengerjakan ulangan. Diluar itu, saya tidak melarang kalau kalian ingin berpindah bangku, bertanya teman di mejanya dll.”

Saya lanjutnya KBM seperti biasa.

Lalu terdengar.... “Buuuu, XX nangis buuuu....”

Saya bilang, “iyaaa... gapapa....”

Saya pikir dia akan berhenti menangis dengan sendirinya jika saya berkata seperti itu.  Lalu saya kembali berpikir, bagaimana jika saya berada di posisinya?

Tidak seharusnya saya menasihatinya didepan teman-temannya, tidak seharusnya saya mengumumkan peraturan spontan saya didepan teman-temannya.

Apa yang telah saya lakukan? Tidak seharusnya seperti ini, saya harus menjadi orang yang dia percaya, karena saya adalah gurunya. Orang yang menjadi jembatan ilmunya. Jika ia membenci dan tidak mempercayai saya, maka say adalah guru yang gagal.

Saya menghampirinya, menyeka air matanya, memegang pundaknya, sambil berkata...

“XX sudah jangan menangis lagi, la kamu se keluar-keluar dari kelas, ibu kan jadi bingung. Jangan keluar-keluar lagi ya... Kalau mau ke kamar mandi atau kenapa-napa, bilang dulu ke ibu. Kan jadi jelas, kamu kemana. Wes, maaf yaa ibu tadi gitu ke kamu, wes ga usah nangis lagi...”

Dia memang sedang tersedu-sedu sepanjang saya berkata padanya. Saya mencoba begitu keras untuk sehalus mungkin menghadapinya. Mencoba meyakinkan dia bahwa saya tidak setuju dengan tindakannya dan sama sekali tidak membenci dirinya.

XX, ibu pikir mungkin kamu marah dan membenci seseorang, mungkin kamu memiliki permasalah lain, mungkin apa yang kamu lakukan adalah untuk mencapai  tahap ini, ‘lebih diperhatikan oleh seseorang’. Mungkin seperti itu, mungkin tidak.

Terimakasih telah memberikan pembelajaran dan maafkan saya yang masih belajar.

Kemudian...

“Buuuuu, XY nangis diganggu XA dan XB......”

Dalam hati, beneran? Apa bercanda?

Benarlah.....
XY saya tanyai dia diperlakukan seperti apa. XA dan XB saya tanyai apakah benar yang dikatakan XY dan mengapa melakukannya. XA dan XB berkata mereka bercanda terhadap XY karena dia buang sampah sembarangan.

Lalu saya berkata,

“Looh, kalau bercanda iku yang satu seneng yang lain juga seneng. Bukan yang satu seneng yang lain susah... Kamu (XY) bener buang sampah sembarangan?”
Ia mengiyakan. Pada intinya, mereka saya damaikan dengan saling meminta maaf dan saling mengingatkan untuk tidak bertindak semena-mena serta membuang sampah pada tempatnya.
Selesailah urusan, alhamdulillah ini lebih mudah dari awal...

[XX, XY, XA dan XB adalah anak lelaki]

Kemudian....

“Buuuuuu, XC nangiiiis gara-gara XY.......”

[XC adalah anak perempuan]

Gara-gara hal itu, XY yang awalnya agak rentan akibat kejadian sebelumnya, semakin rapuh dan akhirnya ikut menangis sambil menggebrak diding (yang terbuat dari triplek).

Saya membatin, hari ini ada apa?

Tapi saya langsung menghampirinya, menanyainya apa alasannya dan mencoba menenangkannya.
Saya mengambil laptop, menayangkan beberapa video untuk menghibur anak-anak. Saya kira percuma melaksanakan pembelajaran ditengah-tengah siswa yang sedang marah, bersedih dan tidak stabil.

Alhamdulillah, lima orang siswa tadi ikut tenang dan bersikap seperti biasa, walaupun terlihat sembab matanya.

Bahkan XX yang awalnya saya kira masih akan marah, malah menyapa saya sambil tersenyum, alhamdulillah (bahkan saya terharu didalam kelas).

Terimakasih banyak atas pembelajaran yang menantang hari ini, saya menantikan hari yang menantang ini. Saya pikir saya tidak akan bisa sebelumnya. Tetapi kemudian, saya bisa. Maafkan juga saya yang masih belajar ini.

Kembali saya ulang,


“Kita tidak tahu siapa diri kita sampai datang momennya.”


Kamis, 18 Juni 2015

Janji untuk X MIA 1 SMARIHEKSA 2014/2015!


Pada awal semester genap Tahun Ajaran 2014/2015, saya melaksanakan PPL di SMAN 6 Malang selama kurang lebih satu setengah bulan.
Halaman depan SMAN 6 Malang
Kelas X MIA 1 adalah kelas favorit saya, karena para siswanya yang bersemangat, banyak ide dan menyenangkan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas.

Pada awalnya saya merasa kurang bersemangat saat mengajar di kelas X MIA 1, saya merasa kurang kompeten dan minder dalam mendidik para siswa. Hal ini karena pada minggu pertama saya mengajar di kelas ini, para siswa terlihat kurang bersemangat dan cenderung ramai.

Sampai akhirnya pada minggu kedua, Ibu Yetty (Guru Biologi kelas X MIA 1) menyarankan saya untuk melaksanakan KBM di lab bio (laboratorium biologi) saja, karena tempatnya lebih luas, penerangannya bagus, terjangkau wifi dan LCD-nya berfungsi dengan baik. Memang lebih baik, jika dibandingkan dengan kelas mereka yang cenderung sempit, panas dan tayangan LCD tidak terlihat dengan jelas.

Men doing their works seriously!
Women too!
Begitu KBM dilaksanakan di lab bio, siswa terlihat lebih fokus dan penyampaian materi lebih baik. Terbukti dari partisipasi aktif siswa setiap saya mengajukan pertanyaan, mereka akan bertepuk tangan dengan meriah dan berteriak girang jika jawaban mereka benar.

[Tepuk tangan penyemangatnya di provokasi oleh seorang anak lelaki yang gagah berani dan terlibat aktif pada ekskul PASKIBRA. Saya setuju dengan apa yang Ia lakukan, bahwa belajar tidak selalu harus serius jika kamu bisa belajar dengan tertawa bahagia.]

Hal ini membuat saya lebih nyaman dan bersemangat dalam mempersiapkan KBM selanjutnya. Sehingga pada minggu ketiga, saya sudah merasa mengenal dan akrab dengan para siswa kelas X MIA 1. Beberapa siswa mengaku, yang pada awalnya mereka mengeluh dan tidak setuju dengan cara  mengajar saya, sekarang mereka lebih bersemangat karena menyukai KBM yang saya lakukan di kelas.

They happy when go out from class and touch anything!
[Seorang siswi berkacamata dan berkerudung bercerita,
Bu, dulu saya bilang, “Hancurkan bu Sofi!”, kalau sekarang saya bilang, “Hidup bu Sofi!”.
Saya terkesan dan menempatkan penghargaan ini dalam hati saya.]

Ternyata, mengajar bukan hal yang mudah! (baca lebih lanjut!)

Pernah saya mengoreksi tugas, menemukan jawaban berupa pisang goreng.

[Dalam batin, beraninya mereka mempermainkan saya! Mereka kira belajar hanya main-main?!]

Tetapi kemudian saya berpikir banyak hal, seperti mungkin mereka bosan dengan cara saya mengajar, mungkin saya kurang memperhatikan mereka, mungkin saya mengabaikan bahwa mereka masih belum memahami materi, mungkin saya terlalu cepat, mungkin dia sakit, mungkin dia memiliki masalah dengan temannya, dirumah atau diluar sekolah. Mereka hanya belum mengetahui makna dari apa yang mereka pelajari.

“Apa gunanya saya belajar jenis-jenis dan ciri-ciri tumbuhan paku? Buat apa sih? Toh saya hidup gak buat nyari tumbuhan paku!”

[Mungkin itu yang kalian pikirkan atau mungkin kalian pergi ke sekolah hanya karena kewajiban dari orang tua atau hanya ingin bertemu dengan teman.]

Siswa-siswi sekaligus adik-adikku, kalian pasti menginginkan sesuatu dalam hidup kalian? Maka gapailah itu!
Tetapi, saya yakin, hal itu tidak akan mudah jika tidak dengan belajar yang bersungguh-sungguh.
Saya beritahukan, bahwa belajar tidak selalu harus di kelas atau sekolah, belajar tidak selalu harus sesuai batas pelajaran (misalnya biologi, matematika, sosiologi dan seterusnya) dan belajar tidak selalu harus pada jam sekolah.

Kalian bisa belajar apapun, dimanapun, kapanpun sesuai dengan keinginan kalian!

Kembali pada KBM di kelas X MIA 1...
Biasanya setiap jawaban benar yang diajukan, akan langsung saya berikan poin pada absen. Awalnya hal ini saya lakukan untuk menarik perhatian dan memberi semangat pada para siswa agar berani mengajukan jawaban dan terlibat aktif pada KBM.

Tetapi, sampai datang pada suatu waktu...

Dengan banyaknya siswa yang ingin menjawab, saya lebih sering mengajukan pertanyaan, sehingga akhirnya saya sering tidak sempat memberi tanda poin pada absen siswa. Saya pikir hal ini tidak akan berdampak apa-apa, karena tujuan saya mengajar bukanlah memberikan poin sebanyak-banyaknya.
Ternyata, seorang siswa merasa keberatan dengan hal ini. Dia mulai berhenti mengajukan jawaban dan akhirnya ditengah-tengah keramaian kelas dia berkata,

“Ah, gak jadi jawab, ntar juga gak ditulis poinnya.”

[Saya tertegun dan kecewa sehingga setelahnya KBM saya lakukan dengan tidak bersemangat dan ingin segera mengakhirinya]

Dia memang termasuk siswa yang paling aktif mengajukan jawaban, memperhatikan penjelasan saya dengan baik dan mengerjakan setiap tugas dengan teliti, sehingga dia hampir selalu mendapat nilai tertinggi pada setiap tugas.

Saya menyukai setiap karakter siswa kelas X MIA 1, tetapi saya sangat berterimakasih kepada siswa tersebut. Dengan pengakuannya saya belajar, bahwa saya perlu menyampaikan terlebih dahulu tujuan dan karakteristis saya sebagai seorang guru, sebelum memulai KBM dengan para siswa.

Sehingga perlu saya sampaikan disini, agar siswa tersebut dan siswa X MIA 1 lainnya mengetahui.

Tujuan saya menjadi guru adalah agar anak-anak atau para siswa mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna, sehingga siswa dapat memahami dan mengetahui apa yang dapat ia lakukan dari ilmu yang telah ia pelajari. Bukan membantu siswa mendapatkan nilai tertinggi semata.

Karakteristik saya sebagai guru adalah saya memberikan kebebasan kepada siswa untuk melakukan apapun selama KBM (baik diluar maupun didalam kelas) dengan batasan (selama hal tersebut membantu siswa dalam memahami apa yang ia pelajari). Jadi saya berikan kebebasan yang terbatas, yaitu lakukan apa saja yang diperlukan untuk belajar!

Kembali pada siswa dalam cerita sebelumnya...

Setelah berkata demikian dan membuat saya kecewa. Siswa tersebut menyadari bahwa saya tidak setuju dengan apa yang ia katakan kepada saya. Segera setelah KBM usai, dia memberi salam dan berkata,

“Bu, maaf kalau saya punya salah.”

Sungguh, setelah mendengar kata-kata itu dan melihat wajahnya yang tulus, saya bersedih.

[Apa yang telah saya lakukan? Saya telah membuatnya kecewa lalu dialah yang telah meminta maaf terlebih dahulu? Guru macam apa saya ini?]

Sampai pada pertemuan terakhir, saya tidak sempat menyatakan kata perpisahan, ucapan terimakasih dan bahkan permintaan maaf kepadanya dan para siswa X MIA 1 selama kurang lebih satu setengah bulan ini.
Waktu itu memang saya dipanggil oleh dosen pembimbing PPL, yang tidak mungkin saya tolak, sehingga saya harus meninggalkan kelas sebelum waktunya.

Jadi, selamat berjumpa kembali para (mantan) siswa kelas X MIA 1 (kan kalian udah naik kelas?) ;)

Mohon maaf atas segala kesalahan yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Mohon maaf jika saya pernah membuat kalian tidak nyaman bahkan pernah menyakiti hati kalian. Semoga kalian bersedia memberi maaf dan semoga kita semua dirahmati Allah.

Jika diantara kalian ada yang merasa telah bersalah kepada saya, maka jangan khawatir, saya tidak merasa disakiti atau disusahkan oleh kalian. Bahkan saya ucapkan terimakasih atas pembelajaran berharga yang telah kalian berikan, sehingga Ibu dapat belajar dan terus memperbaiki diri agar menjadi guru yang lebih baik...

Jadi ini buat Agung, Ais, Chanif, Ananta, Arya, Chrisna, Dwi Satria, Dewi, Dian, Dwiky, Erin, Erra, Evita, Fahira, Fajar, Irma, Janisa, Jodi, Fatkhur, Nasir, Salsabila, Neny, Nicholas, Novi, Rifdah, A’yun, Rama, Redzky, Rheza, Risky, Rosarinda, Rouf, Toni, Try, Widi, dan Yulita.

Saya dan kalian semua..
We’ve made memories together! It’s not always good memories, but we had each other :).

Tulisan ini saya buat untuk memenuhi janji saya pribadi kepada kelas X MIA 1, setelah kejadian hari itu, seorang siswa bertanya,

“Bu, tadi kenapa? Kok gak semangat seperti biasanya? Siapa bu? Dia kan bu?”
Saya balas menjawab,
“Saya akan menceritakannya secara detail di blog saya, jadi tungguin aja ya :)!”


Ditulis selama 105 menit untuk pembelajaran  yang berharga, X MIA 1!
--by SN


Minggu, 18 Januari 2015

90 vs 30


“Seorang guru kecewa terhadap siswanya yang mendapat nilai 90 tetapi bangga terhadap siswa lainnya yang hanya mendapatkan nilai 30.”

Apa yang sebenarnya terjadi?
                
Saya sebagai mahasiswa jurusan pendidikan harus menempuh PPL di sekolah. Kegiatannya berupa praktik menjadi guru dalam waktu 1,5 bulan. Mulai 9 Januari, saya sudah mengikuti kegiatan sekolah, kemudian diberikan tanggung jawab mengajar 2 kelas X dan membantu mengajar 2 kelas Lintas Minat.

Jumat, 16 Januari 2015 saya membantu mengajar kelas Lintas Minat (LM) Biologi yang berisikan 8 siswa kelas X IIS (IPS). Seorang diantaranya berasal dari Papua, namanya Raimundus. Raimundus mendapatkan beasiswa untuk sekolah di Jawa dengan 4 teman lainnya (yang semuanya laki-laki).
Hari itu saya mendampingi Ibu Y mengajar di kelas LM Biologi pada BAB Jamur. Awalnya siswa disuruh untuk mengisi tabel peranan jamur bagi kehidupan sesuai dengan buku paket. Kemudian untuk evaluasi BAB Jamur, Ibu Y menginstruksikan siswa untuk mengerjakan soal pilihan ganda yang ada di buku paket, siswa menyalin pertanyaan dan jawabannya di buku tulis masing-masing. Ketika siswa lain mulai menyalin soal nomer 1, seorang siswa bernama R menemukan kunci jawaban soal-soal di bagian akhir buku (memang bagian dari buku paketnya, yang menyediakan kunci jawaban). Sehingga kelompok siswa tersebut langsung gaduh dan berpandangan tersenyum ‘ingin curang’. Ibu Y mengetahui hal ini, kemudian berkata, “Kalau kalian melihat kunci jawaban, nanti saya suruh mengerjakan soal uraian lo!”.

Dari 8 siswa, 2 diantaranya melihat kunci jawaban dan menyebarkannya ke seluruh siswa, beberapa kali siswa dengan terang-terangan menyontek temannya dan ketahuan akan membuka kunci jawaban. Tetapi tidak ada tindakan. Namun, satu hal yang membuat saya tertarik, Raimun. Raimun terlihat berusaha keras menyalin tulisan dan menjawab soal tersebut dengan jujur. Ketika waktu sudah habis, ke-7 siswa mengumpulkan bukunya dengan santai, tetapi tidak dengan Raimun. Raimun terlihat kebingungan, mungkin seperti berkata, “Aduh, bagaimana ini, menulis soalnya saja belum selesai, jawaban juga ada yang belum.” Tetapi kemudian Raimun tetap mengumpulkan bukunya.

Ketika melihat betapa bersusah payahnya Raimun, dalam hati saya berkata, “Oh Raimundus, mungkin kamu akan lebih bahagia dan lebih berguna di tempat asalmu. Jika kamu masih tetap disana, mungkin saja sekarang kamu sudah mahir memancing ikan, memanjat pohon tertinggi, menyelami lautan indah Papua, berburu hewan liar untuk dimakan dan memiliki banyak keterampilan lahiriah khas Papua. Oh Raimundus, betapa malang dirimu disini. Mungkin saja awalnya kamu senang bukan kepalang saat mengetahui kamu mendapat beasiswa dan akan naik pesawat terbang ke Jawa ‘Pulau Impianmu. Tetapi setelah mengikuti sekolah disini, kamu terlihat paling berbeda, paling diperhatikan dan paling ‘kurang’. Mungkin kadang kamu masih tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan gurumu di depan kelas, kamu juga tidak mengerti mengapa sekolah disini pekerjaannya hanya menulis dan lebih banyak menulis (baca: menyalin). Lalu, mungkin saja kamu merindukan rumah, teman dan keluargamu. Oh, Raimundus yang malang, hati Ibu tersayat melihatmu seperti ini.”

Sabtu, 17 Januari 2015, saya mengoreksi pekerjaan 8 siswa LM yang dikumpulkan hari Jumat kemarin. Ke-7 orang mendapatkan nilai 90, tetapi saya beri emoticon sedih dengan tulisan “hope you try to be honest!”. Artinya walaupun nilai mereka 90, tetapi saya tahu bahwa mereka curang (melihat kunci jawaban) dan berharap agar mereka mencoba untuk jujur (coba jujur dulu dan seterusnya jujur). Kemudian sampailah pada buku milik Raimundus. Bukunya bertuliskan nama dan kelasnya, tetapi dengan tulisan “buku Bahasa Indonesia”, terlihat catatan-catatan pelajaran bahasa Indonesiapada lembar awal, pada lembar-lembar akhir ada catatan pelajaran Sosiologi dan pada bagian tengah buku ada hasil pekerjaannya Ujian BAB Jamur. Tulisannya memang tidak begitu rapi, soal berhenti pada nomer 7 dan jawaban berhenti pada nomer 5. 3 jawaban benar, 2 jawaban salah dan sisanya kosong. Kenyataannya adalah Raimundus mendapatkan nilai 30, karena berhasil menjawab 3 soal dengan benar dari 10 soal. Tetapi kemudian saya beri tulisan “30+honesty+hard work=100, congratulation Raimundus, I Appreciate your hardwork and thank you for being honest!”.

      “Betapa berharganya kerja keras yang jujur sehingga tidak ternilai”

Doa Ibu Sofiya untuk Raimundus dan siswa lainnya yang serupa (senasib) dengannya di seluruh dunia,


“Semoga anak-anak seperti kalian bertemu dengan orang yang tepat dan menemukan jalan kesuksesan kalian dalam menjadi insan yang menjadi dan menjadikan masyarakat yang baik, sehingga kehidupan menjadi baik. Amin”

Selasa, 01 Juli 2014

Kuliah Kerja Nyata (bukan Manipulasi) buat kami ber-10

Thanks God...

KKN sudah selesai, semua tubuh sudah berpisah pulang kembali ke rumah masing-masing.

Apa yang kami ber-10 lakukan selama 45 hari KKN di kelurahan Mulyorejo, Sukun adalah benar-benar nyata. Padahal saya kira pada awalnya tidak akan senyata ini, akan banyak hiburan dan hal yang sia-sia.

Memang kami hampir tidak pernah berlibur atau jalan-jalan selama KKN, mungkin terkesan terlalu serius, tetapi kami semua menikmati hal ini.

Liburan kami adalah bercengkrama di rumah kami, ya posko KKN.

Kami menikmati setiap hal yang ada di rumah kami, bercanda satu sama lain, memasak bersama, kelaparan tengah malam bersama.

Program KKN kami semua terlaksana dengan baik, bahkan banyak sekali kegiatan diluar proker yang membuat kami tetap sibuk dan bersentuhan dengan masyarakat. Alhamdulillah, hal ini meninggalkan kesan yang baik. Kami diterima, didukung dan diharapkan kembali. Alhamdulillah, kami menyampaikan titipan kepada yang berhak. Itulah mengapa disebut kuliah kerja Nyata (bukan manipulasi).

Selain kami be-10, ada tambahan 1 tubuh lagi, pemilik rumah yang tempatnya kami pinjam sebagai rumah kami (posko KKN).

Mas J sebagai pemilik rumah adalah bagian kami yang membuat kami lebih ceria, lebih bermakna dan berbagi banyak hal dengannya.

Setiap dari kami memiliki uniknya masing-masing.

Sudah kami bahas habis saat sharing terakhir bersama, bagaimana kesan selama KKN, apa yang sudah baik dan apa yang perlu diperbaiki dari masing-masing kami sudah tersampaikan.

Justru kedekatan, kebersamaan dan rasa saling memiliki baru sangat kami rasakan pada minggu terakhir kami bersama.

Sungguh berat dan seperti tak ingin berpisah satu sama lain, tetapi masing-masing dari kami tidak bisa menolak untuk segera kembali pulang.

Kami ber-10 ini bukan hanya sekedar teman lagi, selama hampir 45 hari kami bersama selama 24 jam. Mengetahui satu sama lain dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan mengigau dan kelakuan saat tidur.

Kami ini keluarga (bukan melebihkan), tapi kami memang seperti keluarga. Tinggal bersama, melakukan hal yang sama bersama, memiliki tujuan yang sama, saling menyayangi, saling melindungi, saling peduli, saling menolong, saling mengingatkan, saling merawat, bercanda bersama, memecahkan masalah bersama, dan banyak lagi.

Beberapa hal yang akan susah dilupakan adalah...

Bu kordes yang terjebak lingkaran cinta pak RW dan Pak wakordes. yang menjadi penggerak kami.

Pak wakordes yang suka makan dan jail sekali sama bu kordes, tetapi yang membuat kami tersambung dengan masyarakat.

Sekretaris I yang selalu membuat kami bahagia, the hard worker, walaupun terkadang usil sekali.

Bendahara I, si Sayem yang populer dengan “Gile lu ndro! Ala ma jal!”

Bendahara II, si Keles yang populer dengan banyak kata baru lucunya “Herman.. (dan banyak sekali yang lain)”

Bu El yang suka memasak buat kami, ke-alay-annya yang tak tertahankan dan ke-PGSD-an nya yang super sekali.

Mbak Fat yang memberikan banyak pelajaran buat kami, “1 jam di luar sana adalah uang”, diam untuk belajar, bergerak untuk bekerja.

Nyonya Tiu yang lucu sekali, si MC favorit kami.

Mas Mir dengan keinginan perubahannya yang besar dan rasa ingin tahu yang tinggi.

Aah, semua itu dan banyak hal lain yang tak bisa ditulis disini adalah memori bahagia kami ber-10.

Ada hal yang lebih baik kami simpan untuk keluarga ber 10 kami ini.

Setelah ini, kami memang pulang kembali ke rumah masing-masing, kami memang akan melakukan hal yang sama sekali berbeda satu sama lain tetapi kami masih dalam satu lingkup yang sama, kami masih di Universitas Negeri Malang (UM) dan kami tentunya kami pernah memiliki memori yang sama, kami masih keluarga.

Semoga kami saling berterimakasih dan saling memaafkan satu sama lain.

Semoga kami tetap menjadi keluarga.

Semoga kami selalu menjadi manusia yang baik dan bermanfaat bagi yang lain.

Selamat berbuat kebaikan untuk kami.

Selamat sukses untuk kami.

Amin.

By SN.